Gadget, merupakan satu istilah yang kini menjadi sangat akrab
terdengar di telinga kita. Lantas apa itu gadget?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) gadget
diartikan sebagai peranti elektronik atau mekanik dengan fungsi praktis .
Beberapa contoh gadget diantaranya
adalah handphone, smartphone, laptop,
netbook, tablet dan masih banyak lagi
perangkat lainnya yang dirancang dengan teknologi modern.
Di zaman yang sangat modern pada saat ini perkembangan teknologi terus
berkembang. Karena perkembangan teknologi akan berjalan sesuai perkembangan
ilmu pengetahuan yang semakin tinggi. Teknologi diciptakan untuk memberikan
kemudahan bagi kehidupan manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan
memberikan nilai yang positif. Namun demikian, walaupun pada awalnya diciptakan
untuk menghasilkan manfaat positif, di sisi lain juga memungkinkan digunakan
untuk hal negatif.
Semakin canggih zaman maka semakin banyak gadget yang akan digunakan
tentunya apalagi sekarang ini semakin banyaknya aplikasi canggih yang
berkembang dan terus berkembang pesat maka semakin banyak pula orang yang ingin
memilih dan menggunakannya untuk kebutuhan dalam mencari dan mendapatkan
informasi yang dibutuhkannya setiap harinya.
Seperti yang diketahui, saat ini perkembangan gadget di Indonesia
pertumbuhannya cukup pesat. Bahkan peminat gadget di Indonesia semakin
bertambah dan hampir semua kalangan masyarakat gemar menggunakan gadget.Hampir
seluruh manusia di belahan dunia saat ini mengenal dan menggunakan gadget. Salah satu contohnya penggunaan
ponsel untuk keperluan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan data
dari GSMA sebagai salah satu asosiasi operator seluler di dunia menyebutkan
bahwa pada pertengahan tahun 2017 jumlah pengguna ponsel melewati angka 5
miliar dan bahkan akan terus meningkat hingga 5,7 miliar atau setara dengan
tiga perempat populasi dunia pada tahun 2020. Di Indonesia sendiri jumah pengguna ponsel telah
melebihi jumlah penduduk Indonesia. Berdasarkan data yang diambil dari US Censcus Bureau pada tahun 2015
menjelaskan bahwa pengguna telepon seluler di Indonesia telah melebih dari 281
juta sedangkan jumlah penduduk Indonesia per awal tahun 2014 baru mencapai 251
juta jiwa. Hal ini mengungkapkan bahwa kebutuhan komunikasi dan informasi
sangatlah tinggi di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Seperti yang
diketahui, saat ini perkembangan gadget di Indonesia pertumbuhannya cukup
pesat. Bahkan peminat gadget di Indonesia semakin bertambah dan hampir semua
kalangan masyarakat gemar menggunakan gadget.
Gadget biasanya dilengkapi dengan fasilitas internet. Maka penggunaan gadget
juga tidak dapat lepas dari penggunaan internet.
Berdasarkan data statistik dari APJII tentang jumlah pengguna internet di
Indonesia pada tahun 2016 mencapai 132,7 juta. Pengguna internet usia 15-19 tahun sebanyak 12,5 juta
dan usia 10-14 tahun sebanyak 768 ribu. Fakta yang cukup memprihatinkan bahwa
pengguna internet tersebut juga mencakup banyak anak-anak.
Perlu adanya bimbingan yang mendidik
untuk melindungi anak-anak akan bahaya gadget. Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Hal
ini dilatarbelakangi oleh adanyan dampak negatif yang ditimbulkan dari
penggunaan gadget oleh anak-anak.
Meskipun kita juga tidak dapat kita memungkiri dampak positif dari penggunaan gadget. Dampak negatif yang ditimbulkan
dari penggunaan gadget oleh anak-anak
antara lain anak tumbuh menjadi pribadi yang individualis, gaya hidup
konsumtif, mengkerdilkan daya kreatifitas, plagiarise dan gaya hidup yang
meniru budaya asing.
Banyak anak kini sibuk dengan gadget-nya masing-masing, mulai dari
bermain game, menonton video ataupun sekedar membuka-buka aplikasi pada gadgetnya. Kegiatan tersebut membuat anak lupa akan
dunia di sekitarnya. Anak cenderung mengabaikan ketika disapa atau dipanggil,
anak apatis terhadap peristiwa sosial
yang terjadi di sekitarnya. Selain itu berbagai informasi dari internet yang
menawarkan kemudahan membuat anak menjadi pribadi yang konsumtif. Anak sangat
tertarik terhadap berbagai produk baru yang menurutnya sedang mengkuti trend sehingga kadang memaksa orang tua
untuk membelinya. Kemudahan untuk memperoleh informasi berkaitan dengan
materi-materi pelajaran di sekolah juga membuat anak menjadi malas membaca dan
berkreatitas, anak cenderung meniru dan mengcopy
paste apa yang diperolehnya dari internet. Hal ini mengakibatkan
kreatifitas anak menjadi kerdil dan budaya plagiarism yang semakin tinggi.
Informasi tentang budaya dan gaya hidup asing yang dilihatnya di internet juga
mempengaruhi anak-anak dalam gaya hidup sehari-hari. Anak merasa bangga bila
bisa meniru gaya asing dan dianggap mengikuti zaman.
Meski demikian semua
orang berhak merasakan dan menikmati teknologi gadget ini, termasuk anak. Gadget hendaknya jangan diasosiasikan
sebagai hal yang bisa merugikan anak, gadget
jika diulik lebih dalam bisa menjadi media belajar yang sangat menyenangkan. untuk anak. Nah
tentunya, semua itu terkandung pada orang tua sebagai akses kontrol, pengawas
dan orang yang ada di dekat anak.
Aplikasi dan game yang ada di dalam gadget juga bisa menjadi alternatif atau
sarana hiburan yang murah meriah. Jika diteliti lebih dalam, banyak game
populer yang diambil dari pelajaran sehari-hari, misal Angry Birds yang
mengusung hukum pegas dalam Fisika. Saat ini banyak tersedia konten-konten
positif aplikasi dan game yang tersedia di Google Play, untuk aplikasi Anda
mungkin bisa mendownload aplikasi buku pelajaran, aplikasi Al Quran, atau
aplikasi pembelajaran yang lain. Jadi, memang yang perlu dilakukan hanyalah
pembatasan dalam pemakaian gadget, perhatikan waktu pemakaian dan perhatikan
pula isi aplikasi dan game yang dimainkan anak di dalam gadgetnya.
Gadget merupakan salah satu alat
yang memiliki tekonologi yang canggih. Jadi semua orang dapat dengan mudah
berkomunikasi dengan orang lain dari seluruh penjuru dunia. Selain itu, melalui
gadget yang berteknologi canggih, anak-anak dengan mudah dan cepat untuk
mendapatkan informasi mengenai tugas nya disekolah. Misalnya kita ingin
browsing internet dimana saja dan kapan saja yang ingin kita ketahui. Dengan
demikian dari internet kita bisa menambah ilmu pengetahuan dan wawasan serta
beradaptasi dengan modernisasi.
Berbagai upaya dapat diterapkan
dalam mengatasi bahay akan dampak negatif gadget bagi anak, salah satunya
adalah mengoptimalkan peran orang tua sebagai orang yang dapat membatasi
gerak-gerik anak dalam menggunakan gadget. Salah satu dampak negatif bagi anak
yaitu berkaitan dengan sikap anak yang cenderung anti sosial dan memilih
berlama-lama dengan gadgetnya masing-masing di dalam rumah, oleh karena itu
perlu adanya tindakan langsung dari orang tua umtuk membatsi waktu anak dalam
penggunaan gadget yang merugikan perkembangan anak.
Saat ini pemerintah sudah membatasi
akses internet yang memuat konten yang dinilai merusak moral anak, contohnya
pemblokiran situs-situs dewasa. Namun tentu saja masih terdapat berbagai konten
yang luput dari pengawasan pemerintah yang dapat diakses dari internet. Oleh
karena itu peran orang tua begitu diharapkan sebagai agen filtering kejahatan
moral yang dapat merusak generasi muda anak bangsa. Akan tetapi dengan semakin
dimudahkannya akses internet dalam penggunaan gadget tentu akan berpengaruh
terhadap sikap anak khususnya dalam belajar dan menciptakan kreativitas anak.
Sejatinya gadget tidaklah sepenuhnya memberikan dampak-dampak yang
buruk. Kehadiran gadget tentu saja memberikan kebermanfaatan tersendiri dalam
beberapa aspek, misalnya memberikan sumber belajar yang lebih luas kepada anak-anak,
akses informasi yang lebih cepat, efektif dalam berkomunikasi, belajar
menggunakan teknologi dan mampu beradaptasi dengan modernisasi. Untuk itu, yang
perlu dilakukan bukan memusnahkan gadget melainkan
mencegah ataupun meminimalisir dampak-dampak negatif yang mungkin saja akan
merusak pola pikir anak-anak. Hal ini dapat dimulai dari pola asuh orangtua di
rumah, sebaiknya para orangtua membatasi anak-anaknya dalam mengoperasikan gadget supaya mereka tidak bergantung
sepenuhnya dengan gadget. Hindarkan
anak dari perilaku plaguarisme yang kini sudah menjadi hal yang biasa terjadi
padahal hal ini dapat berdampak besar pada perkembangan anak-anak jika
dibiarkan begitu saja, mereka sebaiknya diberikan apresiasi ketika bisa
mengerjakan suatu tugas dengan pemikiran mereka sendiri, sehingga mereka tidak
merasa minder karena tugas yang dia kerjakan. Anak-anak juga sebaiknya di awasi
dan diberitahukan mana konten-konten yang boleh mereka akses serta
konten-konten yang bisa mereka akses atau dapat pula dilakukan dengan memblokir
situs-situs yang sekiranya tidak sesuai dengan anak-anak.
SETTING GADGET YANG
RAMAH ANAK
Aplikasi blokir
situs di Android merupakan aplikasi yang sangat dicari bagi orang tua, karena
banyak situs-situs yang bisa merusak moral anak-anak. Aplikasi itu kini muncul
di play store, dari berbagai aplikasi
tersebut, terdapat salah satu yang bagus dan sudah mendapatkan rating yang
tinggi dari para pengguna, yaitu "McAfee Parental
Cotrol". Sebelum orangtua mengunduh dan
menggunakan aplikasi ini, sebaiknya para orangtua perlu memperhatikan beberapa
hal-hal seperti yang akan di paparkan dibawah ini:
1.
Anda harus mempunyai email yang
tidak terhubung dengan Android anak, dan anda harus hafal nama email serta
paswordnya karena hal ini diperlukan untuk menginstal aplikasi.
- Pastikan anak anda tidak mengetahui saat anda menginstalnya, karena akan menjadi masalah dikemudian hari.
"McAfee Parental Cotrol" dapat di cari
melalui Play Store atau langsung bisa kunjungi situs resminya. Keutamaan dari "McAfee Parental Cotrol" adalah sebagai berikut:
- Dapat menyaring secara langsung, di browser android dan juga aplikasi yeng telah didaftarkan untuk di saring (dilarang penggunaannya)
- Anda tidak perlu repot setting aplikasi di Ponsel anak
- Aplikasi bisa terhubung dengan Ponsel Anda, untuk menyeting
- Anak bisa meminta izin secara Online kepada Anda ketika ingin memakai aplikasi atau mengakses konten terlarang (tidak harus menghapus aplikasi)
- Anda bisa melacak riwayat penggunaan Ponsel Anak melalui Ponsel Anda
- Anda bisa melacak Ponsel ketika ponsel itu hilang
Ada banyak cara dalam memberikan
pencegahan pada anak, baik itu dengan aplikasi maupun dengan tindakan langung
dari orangtua. Sebenarnya, tingkat kecenderungan anak dalam penggunaan gadgdet bergantung pada orangtua
masing-masing. Karena percuma saja sudah memberikan filter melalui gadget anak-anak apabila orangtua tidak menjelaskan
secara lebih mendalam mengenai bahaya gadget bagi anak-anak.
.